Thursday, December 24, 2015

MODUL 1- B PENGORGANISASIAN DI RUANG MPKP

Pendahuluan

Pengorganisasian adalah  pengelompokan  aktivitas untuk mencapai tujuan, penugasan suatu kelompok tenaga keperawatan, menentukan cara dari pengkoordinasian aktivitas yang tepat, baik vertikal maupun horizontal, yang bertanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi

Pengorganisasian kegiatan dan tenaga perawat di ruang MPKP menggunakan pendekatan Sistem Penugasan Modifikasi Keperawatan Tim-Primer. Secara vertikal ada Kepala Ruangan, Ketua Tim, dan Perawat Pelaksana. Setiap Tim bertanggung jawab terhadap sejumlah pasien. Pengorganisasian di Ruang MPKP terdiri dari:
 download disini gertis,,,,

PERENCANAAN DI RUANG MPKP

A.     Pendahuluan



Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan di masa mendatang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Siagian, 1990). Perencanaan dapat juga diartikan sebagai suatu rencana kegiatan tentang apa yang harus dilakukan, bagaimana kegiatan itu dilaksanakan, dimana kegiatan itu dilakukan. Sehingga perencanaan yang matang akan memberi petunjuk dan mempermudah dalam melaksanakan suatu kegiatan. Dalam suatu organisasi perencanaan merupakan pola pikir yang dapat menentukan keberhasilan suatu kegiatan dan titik tolak dari kegiatan pelaksanaan kegiatan selanjutnya.

download disini gratiss,,,,

manajemen keperawatan ruang model praktek keperawatan profesional jiwa

MODUL I
MANAJEMEN KEPERAWATAN
RUANG MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL JIWA

Pendahuluan

Manajemen adalah proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Gillies,1989). Swanburg (2000) mendefinisikan manajemen sebagai ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien, efektif dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pelayanan keperawatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh banyak orang sehingga perlu menerapkan manajemen yaitu dalam bentuk manajemen keperawatan. Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan, pengobatan dan bantuan terhadap para pasien (Gillies, 1989).

Model praktek keperawatan mensyaratkan pendekatan manajemen (management approach) sebagai pilar praktek professional yang pertama. Oleh karena itu proses manajemen harus dilaksanakan dengan disiplin untuk menjamin pelayanan yang diberikan kepada pasien atau keluarga merupakan praktek yang professional.

Pendekatan Manajemen di MPKP


Di ruang MPKP pendekatan manajemen diterapkan dalam bentuk fungsi manajemen yang terdiri dari:
  1. Perencanaan (planning) (modul IA)
  2. Pengorganisasian (organizing) (modul IB)
  3. Pengarahan (directing) (modul IC)
  4. Pengendalian (controlling) (modul ID) 

Tujuan


Setelah mempelajari modul ini diharapkan perawat mampu:

  1. Menerapkan perencanaan di MPKP
  2. Menerapkan pengorganisasian di MPKP
  3. Menerapkan proses pengarahan di MPKP
  4. Menerapkan pengendalian di MPKP

Saturday, December 19, 2015

MODUL II COMPENSATORY REWARD

A. Pendahuluan

Modul ini menjelaskan manajemen keperawatan khususnya manajemen sumber daya manusia (SDM) keperawatan. Fokus utama manajemen keperawatan adalah pengelolaan tenaga keperawatan agar dapat produktif sehingga misi dan tujuan organisasi dapat tercapai.Perawat merupakan SDM kesehatan yang mempunyai kesempatan paling banyak melakukan praktek profesionalnya pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Seorang perawat akan mampu memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan yang profesional apabila perawat tersebut sejak awal bekerja diberikan program pengembangan staf yang terstruktur. Metoda dalam menyusun tenaga keperawatan seharusnya teratur, sistematis, rasional, yang digunakan untuk menentukan jumlah dan jenis tenaga keperawatan yang dibutuhkan agar dapat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien sesuai dengan setting tertentu

PENGENDALIAN MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN DI RUANG MPKP

Pengendalian manajemen adalah proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan dan berfungsi untuk menjamin kualitas serta pengevaluasian penampilan. Langkah – langkah yang harus dilakukan dalam pengendalian / pengontrolan meliputi :
  1. Menetapkan standar dan menetapkan metode mengukur prestasi kerja
  2. Melakukan pengukuran prestasi kerja
  3. Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar
  4. Mengambil tindakan korektif
Pada Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) Jiwa  kegiatan pengendalian diterapkan dalam bentuk kegiatan pengukuran:
1. Indikator mutu umum :
a.      Penghitungan lama hari rawat ( BOR )
b.      Penghitungan rata-rata lama di rawat ( ALOS )
c.      Penghitungan lama tempat tidur tidak terisi ( TOI )
2. Indikator mutu rumah sakit jiwa:
a.      Penghitungan kasus lari
b.      Penghitungan pengekangan
c.      Kasus  cidera
d.     Infeksi nosokomial : Scabies
3. Kondisi Pasien:
a.      Audit dokumentasi asuhan keperawatan
b.      Survey masalah baru
c.      Kepuasan pasien dan keluarga
d.     Penilaian kemampuan pasien dan keluarga
  1. Kondisi SDM
a.        Kepuasan tenaga kesehatan: perawat, dokter
b.       Penilaian kinerja perawat

PENGARAHAN PELAYANAN KEPERAWATAN DI RUANG MPKP

Pengarahan adalah langkah keempat dari fungsi manajemen, yaitu penerapan perencanaan dalam bentuk tindakan dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Istilah lain yang digunakan sebagai padanan pengarahan adalah pengkoordinasian, pengaktifan. Apapun istilah yang digunakan pada akhirnya akan bermuara pada “melaksanakan” kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya. (Marquis & Houston, 1998)

Delegasi dilaksanakan di MPKP dalam bentuk pendelegasian tugas oleh  Kepala Ruangan kepada Ketua Tim, Ketua Tim kepada Perawat Pelaksana. Pendelegasian dilakukan melalui mekanisme pelimpahan tugas dan wewenang. Pendelegasian tugas ini dilakukan secara berjenjang. Penerapannya dibagi menjadi 2 jenis  yaitu pendelegasian terencana dan pendelegasian insidentil.

Pendelegasian terencana adalah pendelegasian yang secara otomatis terjadi sebagai konsekuensi sistem penugasan yang diterapkan di ruang MPKP. Bentuknya adalah:

  1. Pendelegasian tugas Kepala Ruangan kepada Ketua Tim untuk menggantikan tugas sementara karena alasan tertentu
  2. Pendelegasian tugas Kepala Ruangan kepada Penanggung Jawab Shift
  3. Pendelegasian Ketua Tim kepada Perawat Pelaksana dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan

PENGORGANISASIAN DI RUANG MPKP

Pengorganisasian kegiatan dan tenaga perawat di ruang MPKP menggunakan pendekatan Sistem Penugasan Modifikasi Keperawatan Tim-Primer. Secara vertikal ada Kepala Ruangan, Ketua Tim, dan Perawat Pelaksana. Setiap Tim bertanggung jawab terhadap sejumlah pasien. Pengorganisasian di Ruang MPKP terdiri dari:

MODUL - IA PERENCANAAN DI RUANG MPKP JIWA

Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan di masa mendatang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Siagian, 1990). Perencanaan dapat juga diartikan sebagai suatu rencana kegiatan tentang apa yang harus dilakukan, bagaimana kegiatan itu dilaksanakan, dimana kegiatan itu dilakukan. Sehingga perencanaan yang matang akan memberi petunjuk dan mempermudah dalam melaksanakan suatu kegiatan. Dalam suatu organisasi perencanaan merupakan pola pikir yang dapat menentukan keberhasilan suatu kegiatan dan titik tolak dari kegiatan pelaksanaan kegiatan selanjutnya.

MODUL I MANAJEMEN KEPERAWATAN RUANG MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL JIWA

Manajemen adalah proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Gillies,1989). Swanburg (2000) mendefinisikan manajemen sebagai ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien, efektif dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

download disni

konsep MPKP keperawatan jiwa

MPKP dikembangkan beberapa jenis sesuai dengan kondisi sumber daya manusia yang ada yaitu:
1.      Model praktek Keperawatan Profesional III
Tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini semua profesional dan ada yang sudah doktor, sehingga praktik keperawatan berdasarkan evidence based. Di ruangan tersebut juga dilakukan penelitian keperawatan, khususnya penelitian klinis.
2.      Model Praktek Keperawatan Profesional II
Tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini mempunyai kemampuan spesialis yang dapat memberikan konsultasi kepada perawat primer. Di ruangan ini digunakan hasil-hasil penelitian keperawatan dan melakukan penelitian keperawatan.
3.      Model Praktek Keperawatan Profesional I
Model ini menggunakan 3 komponen utama yaitu ketenagaan, metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. Metode yang digunakan pada model ini adalah kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim yang disebut tim primer.
4.      Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula

Model ini menyerupai MPKP I, tetapi baru tahap awal pengembangan yang akan menuju profesional I.

Tuesday, December 15, 2015

ASKEP STROKE

Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000)
Stroke hemoragik adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh 
untuk lebih lengkap download disini

Thursday, November 19, 2015

SAP BPH

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
BPH (Benigna Prostat Hiperplasia)

Topik/ Pokok Pembahasan          : BPH (Benigna Prostat Hiperplasia)
Hari/ Tanggal                              : Kamis, 9 Agustus 2012
Waktu                                         : 10:00
Tempat                                        : Ruang Anggrek
Sasaran                                        : Pasien Ruang Anggrek

untuk lebih lengkap download disini...

SAP BPH

              I.          Tujuan Instruktur Umum:
Setelah diberi penyuluhan tentang BPH diharapkan pasien dapat mengerti dan menjelaskan tentang BPH.
           II.          Tujuan Instruktur Khusus:
Setelah diberi penyuluhan tentang BPH, maka pasien dapat :
a.    Menjelaskan pengertian BPH
b.    Menyebutkan penyebab BPH
c.    Menyebutkan tanda dan gejala BPH
        III.          Materi:
Materi terlampir
        IV.          Metode:
a.    Ceramah
b.    Diskusi
           V.          Media:

leaflet


untuk lebih lengkap download disini...

TERAPI PASIEN ASMA PEROKOK

PENDAHULUAN


Banyak pasien asma yang aktif merokok kita temukan di klinik. Pervalensi pasien asma yang aktif merokok ini di Negara berkembang mencapai 25% dari 102 pasien asma akut yang menjalani rawat inap

Merokok mengubah respon terapeutik obat yang dipergunakan pada
penyakit saluran nafas, termasuk asma, melalui berbagai mekanisme, antara lain induksi isoenzim hepatik, interaksi farmakodinamik, dan penurunan sensitivitas terhadap kostikosteroid.11
Banyak penelitian yang mencoba menentukan efek merokok terhadap terapi kortikosteroid inhalasi maupun oral dilakukan di seluruh dunia. Suatu penelitian plasebo-kontrol random prospektif buta-ganda yang dilakukan oleh Chalmers dkk. pada tahun 2002 membuktikan pengaruh merokok terhadap terapi kortikosteroid inhalasi pada penderita dengan asma ringan. Penelitian ini melihat efek terapi dengan fluticasone propionate (1000 μg) inhalasi atau plasebo selama 3 minggu pada pasien asma perokok dan non-perokok yang belum pernah mendapat terapi kortikosteroid. Kesimpulan yang didapat pada penelitian ini adalah merokok akan mengurangi efikasi terapi inhalasi kortikosteroid jangka pendek pada asma ringan
Penelitian lain juga mencoba membandingkan efikasi terapi kortikosteroid inhalasi pada pasien asma persisten ringan perokok dan non-perokok. Tomlison dkk. membandingkan pemakaian beclomethasone inhalasi harian dengan dosis 400 μg dengan 2000 μg selama 12 minggu pada kelompok pasien asma ringan perokok dan non-perokok. Penelitian multisenter random buta ganda ini mendapatkan kesimpulan bahwa pasien asma persisten ringan perokok insensitif
terhadap kortikosteroid inhalasi dosis rendah dibandingkan kelompok nonperokok. Selanjutnya, dengan peningkatan dosis beclomethasone inhalasi, perbedaan sensitivitas ini dapat dikurangi. Temuan ini memberikan dampak yang penting pada manajemen pasien asma ringan yang....

untuk lebih lengkap download disini...

Sunday, November 15, 2015

POLA PEMBERIAN ANTIBIOTIKA PENGOBATAN DEMAM TIFOID

PENDAHULUAN


Demam tifoid dan demam paratifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan kuman Salmonella typhi dengan gejala demam lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. Penyakit ini termasuk penyakit menular endemik yang dapat menyerang banyak orang dan masih merupakan masalah kesehatan di daerah tropis terutama di negara-negara sedang berkembang.
Di Negara berkembang angka kematian akibat demam tifoid berkisar antara 2,3 - 16% angka kematian yang dirawat di RS di Indonesia mengalami penurunan dari 6% pada tahun 1969 menjadi 3,74% pada tahun 1977 dan sebesar 3,4% pada tahun 1978
Data dari Rumah Sakit Fatmawati demam tifoid dan paratifoid termasuk dalam 10 kasus terbanyak morbiditas penyakit rawat inap. Pada tahun 1999 pasien terkena demam tifoid yang dirawat sebesar 414 orang, tahun 2000 sebesar 452 orang dan 350 orang pada tahun2001
Angka kesakitan demam tifoid yang teringgi terdapat pada golongan umur 3 - 19 tahun, suatu golongan masyarakat yang terdiri dari anak-anak usia sekolah. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi prestasi belajar, karena apabila seorang anak menderita penyakit tersebut akan kehilangan waktu sampai dengan 4 minggu.
Sumber penularan penyakit demam tifoid dapat melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, biasanya kontaminasi dari bahan feses, muntahan maupun cairan badan. Salmonella typhi dapat menyebar melalui tangan penderita, lalat dan serangga lain.Infeksi dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung dengan kuman Salmonela typhi Kontak langsung berarti ada kontak dengan orang sehat dan bahan muntahan penderita demam tifoid. Kontak tidak langsung dapat melalui air misalnya air minum yang tidak dimasak,air es yang dibuat dari air yang tekontaminasi, atau dilayani oleh orang yang membawa kuman baik penderita aktif maupun carrier.
Bahaya yang dapat ditimbulkan penyakit ini dapat berupa....

untuk lebih lengkap download disini...

INFEKSI SALURAN KEMIH PADA USIA LANJUT

Pendahuluan


Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi yang sering terjadi pada manusia, khususnya pada penderita usia lanjut (usila) infeksi ini lebih sering terjadi dibandingkan dengan penderita usia muda. Umunmya ISK pada usila bersifat atipik dan kadang-kadang tanpa gejala. Berbagai masalah klinik lain yang timbul dan menurunya daya tahan tubuh pada usila akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas.Bakteriuria asimtomatik pada penderita usila dengan uropatia obstruktif meningkatkan risiko bakteremia, syok septik, adult respiratory distress syndrome dan mortalitas. Selain itu gangguan miksi berupa inkontinensia urin berkolerasi dengan ISK rekuren pada usia khusunya wanita. Menurunya fungsi organ pada usila seperti gangguan fungsi hati, menurunya fungsi ginjal dan perubahan farmakokinetik obat juga berpengaruh terhadap strategi terapi antibiotika. Munculnya berbagai macam strain bakteria yang resisten terhadap antibiotika konvensional dilaporkan berkolerasi dengan bertambahnya usia. Hal ini menyebabkan implikasi tertentu terhadap terapi pada kelompok usila.
masalah-masalah diatas mungkin merupakan masalah yang khusus ditemukan pada kelompok usila dan merupakan problem klinik yang memerlukan perhatian khusun bagi para klinisi, Masalah yang timbul adalah apakah kelompok penderita usila dengan berbagai faktor ISK yang terkait dengan umur memerlukan strategi khusus dalam terapi ISK.....

untuk lebih lengkap download dinisi...

Saturday, November 14, 2015

Metabolic Disorders of Vitamin B6 in Chronic Kidney Disease Patients

Abstract


Background. Vitamin B6 (VB6) is a water soluble vitamin
which is important for the normal function of multiple
organ systems. It is metabolized to the active molecule
pyridoxal-5-phosphate (PLP).
Purpose of the study was to investigate the metabolic disorders
of VB6 in patients (pts) with various chronic
kidney diseases (CKD).
Methods. Erythrocyte (Er) VB6 was investigated in 15
pts suffering from chronic glomerulonephritis and nephrotic
syndrome (CG NS), GFR stage 1; urinary excretion
(UE) of VB6 was investigated in 15 healthy subjects
during maximal water diuresis, in 12 pts with
CKD, GFR stage 3 - 4, during the diet with restriction
(2g/day) or high intake (15g/day) of NaCl and in other
group of 15 CKD pts, GFR stage 3-4, after i.v. administration
of 20 mg furosemide. The effect of 50 mg
pyridoxine (P)/day on several parameters of cellular
immunity in haemodialysis (HD) pts was investigated.
In addition Er VB6 was investigated in 16 HD pts during
erythropoietin (EPO) treatment. Vitamin B6 in plasma
and urine was determined by radioenzymatic assay,
and Er VB6 was determined by means of an indirect method
and it was expressed as the effect of PLP in per
cents. Plasma oxalic acid was determined by spectrophotometric
method using oxalate oxidase which is free
from vitamin C interference.


lebih lengkap download disni gratis

HIPERTENSI DAN MEROKOK

PENDAHULUAN


Telah diketahui bahwa hipertensi hiperkolesterlemia dan merokok merupakan faktor risiko utama dari penyakit kardiovskuler. Berbagai penelitian klinik dan epidemiologik membuktikan adanya hubungan yang kuat bahwa merokok akan berinteraksi dengan hipertensi dalam peningkatan penyakit kardiovaskuler. Studi Framingham terhadap 5209 orang pria dan wanita berusia 30 - 62 tahun yang diamati selama 30 tahun telah memperkuat argumentasi ini. Menurut Mancia pengobatan hipertensi selama ini tampak telah gagal melindungi penderita hipertensi terhadap penyakit jantung koroner (PJK), karena pada umumnya ditunjukan hanya untuk menurunkan tekanan darah saja tanpa mempertimbangkan faktor risiko PJK lainya.

Kaplan salah seorang peneliti lainya mengemukakan bahwa penting artinya dalam penanganan hipertensi upaya menghentikan kebiasaan merokok disamping usaha lain seperti diet rendah garam, menurunkan berat badan, pengurangan pemakaian alkohol dll. Bahwa ternyata bila penderita hipertensi dapat menghentikan kebiasaan merokok maka...........


untuk lebih lengkap download disni gratisss

JOURNAL GAGAL GINJAL AKUT PADA NEONATUS

PENDAHULUAN

Gagal ginjal akut (GGA) pada bayi baru lahir merupakan masalah yang serius. Keadaan ini biasanya disertai dengan oliguria atau anuria. Namun pada beberapa kasus dapat terjadi tanpa disertai penurunan produksi urin, yang disebut gagal ginjal akut non oliguria. GGA non oliguria sering ditemukan sebagai akibat obat-obatan khususnya golongan aminoglikosida.
untuk mengetahui penyebab GGA pada neonatus perlu memperhatikan beberapa hal yaitu adanya kelainan kongenital, keadaan perinatal, penyakit atau keadaan ibu, obat-obatan yang dipergunakan, disamping mencari kemungkinan penyebab perenal, renal dan post renal
angka kejadian GGA menurut Fitzpatrick berkisar 1 - 3 % pertahun, sedangkan beberapa penelitian mendapatkan23% (3,4) GGA pada neonatus walaupun jarang ditemukan, tidak semua penanganan yang dilakukan dapat berhasil dengan baik oleh karena banyak kesulitan yang ditemukan terutama pada pelaksanaan  terapi pengganti fungsi ginjal.  Namun berbagai upaya dilakukan untuk dapat menyelamatkan bayi tersebut walaupun.......

untuk lebih lengkap download disini gratis.

journal Immunomechanisms of Glomerulonephritis

IMMUNOMEKANISME GLOMERULONEFRITIS

Glomerulonefritis (GN) merupakan suatu inflamasi pada glomerulus yang dapat terjadi secara primer maupun sekunder. Berbagai kemungkinan penyebab GN antara lain masuknya zat yang berasal dari luar yang bertindak sebagai antigen, rangsangan autoimun atau aktifitas komplemen lokal/ pelepasan sitokin. Keterlibatan sel inflamasi, komplemen dan mediator inflamasi akan menentukan perubahan struktur dan fungsi glomerolus. Tulisan ini bertujuan untuk memahami mekanisme imunologi yang terjadi pada GN yang mungkin diperlukan dalam pengembangan metode diagnosa dan pengobatan penyakit 


lebih lengkap downloada disni

Diagnosa NANDA,NIC,NOC

membuat diagnosa askep, intervensi, implementasi, hmmmmm...sungguh repot,banyak nulis, kapan mau melakukan tindakanya, mungkin itu yang muncul di pikiran sebagian besar perawat termasuk saya hehehe....

Tenang,,,,, kini tidak usah cape nulis yang bikin tangan kita jadi pegal, saya buatkan kumpulan diagnosa NAND, NIC & NOC yang sering muncul di RS tinggal pilih diagnosa yang sesuai dengan keadaan klinis pasien, tentukan intervensi yang sesuai dan pilih implementasi yang mungkin akan anda lakukan, semuanya hanya tinggal centang, jadi ga usah susah-susah menulis tangan, itu zaman dulu, zaman sekarang sudah berubah...

kalo ada yang mudah kenapa harus susah-susah hehehe.....

monggo download disini file nya semoga bermanfaat.........
download disini juga.

journal gastritis

gastritis merupakan inflamasi dari mukosa gaster. Gastritis dapat disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori (H.pylori), refluks empedu,anti inflamasi non steroid, auto imunitas, respon alergi H.pylori merupakan infeksi utama di lambung dan merupakan penyebab tersering lebih dari 80% dari gastritis. Gastritis kronis cenderung mengalami perubahan menjadi atrofi mukosa gaster yang selanjutnya menimbulkan perubahan fisiologis gaster. kondisi-kondisi ini nyata ditunjukan pada Helicobater-assosiated gastritis walaupun atropi mukosa dan metaplasia intestinal juga terjadi pada gastritis kronis yang lama oleh penyebab yang lain.

gastritis kronis berekelanjutan dapat menimbulkan komplikasi ulkus peptikum, gastritis krionis atrofi dan selanjutnya dapat menimbulkan kanker lambung. yang paling ditakuti dari gastritis adalah terjadinya kanker lambung. Risiko kanker lambung tidak hanya pada gastritis kronis atrofik, tetapi juga pada gastritis kronis non-atrofik dan besarnya risiko tergantung pada luasnya gastritis.

keluhan paling banyak gastritis kroni berupa nyeri perut atau tidak nyaman. keluhan lainya adalah


untuk lebih lengkap download disini

journal anemia pada gagal ginjal kronik

Anemia hampir selalu menyertai gagal ginjal kronik dan banyak faktor terbukti sebagai penyebab terjadinya anemia tersebu. Akhir-akhir ini menurunya kadar eritropeitin dianggap sebagai penyebab utama anemia. Pemakaian eritropoetin rekombinan dilaporkan memberi hasil dan harapan yang baik.  Disamping menaikan HB, kualitas hidup penderita juga diperbaiki. Hipertensi merupakan efek samping yang paling sering ditemukan, umumnya dapat diatasi dengan penambahan obat anithipertensi. Sayangnya eritropoetin rekombinan relatif masih mahal sehingga belum dapat dijangkau oleh kebanyakan penderita.

untuk lebih lengkap download disini

Wednesday, November 11, 2015

Luaran Fungsi Sendi Pergelangan Tangan pada Fraktur Distal Radius Sesudah Tindakan Fiksasi Percutaneous Pinning dibandingkan dengan tindakan Long Arm Cast

PENDAHULUAN

Fraktur distal radius merupakan fraktur dengan insiden tertinggi kedua pada usia tua setelah fraktur pada daerah hip. Dengan bentuk insidensi bimodal fraktur distal radius yaitu, pada usia 6-10 tahun dan usia 60-70 tahun. Pada usia tua penyebab tersering adalah low energy trauma dan lebih banyak ditemukan pada wanita
pada wanita tua selain masalah pada frakturnya, sering didapatnkan masalah lain yaitu kualitas tulang yang menurun. Hali ini menjadi tantangan untuk dapat menentukan metode penatalaksanaan yang tepat, Meskipun pada orang tua kadang tidak mempermasalahkan adanya gangguan pada fungsi tanganya dan adanya deformitas pasca cedera, namun saat ini dengan meningkatnya usia harapan hidup disertai dengan semakin banyaknya populasi manusia yang masih aktif dan produktif dibutuhkan metode penatalaksanaan yang paling tepat untuk dapat menjamin hasil yang maksimal
penatalaksanaan fraktur pada distal radius setelah berubah dari waktu ke waktu. Dahulu closed reduction dan imobilisasi dalam cast merupakan pilihan utama. Saat ini pilihan terapi pada fraktur distal radius semakin beragam. Tujuan utama terapi pada fraktur distal radius intraartikuler adalah mengembalikan permukaan artikular pada posisi anatomis dengan fiksasi yang stabil dan mengembalikan fungsi, karena itu pada kasus ini diperlukan penanganan yang tepat....

untuk lebih lanjut download disini....

Tuesday, November 10, 2015

jorunal menafsirkan perkembangan anak melalui gambar

PENDAHULUAN

ada sejumlah ahli psikologis perkembangan yang mengelompokan tahap-tahap perkembangan manusia menjadi kelompok usia anak-anak, usia remaja, usia dewasa dan usia lanjut (tua).  Usia anak-anak adalah golongan usia antara 1-16 tahun. Usia remaja adalah 17-21 tahun, usia dewasa antara 22-60 tahun dan usia lanut adalah 60 tahun keatas.  Pengelompokan manusia tingkat umur ini bervariasi tetapi tidak jauh berbeda.

hasil peneliti pendahulu yang meneliti gambar-gambar anak-anak mereka pada umumnya memiliki hasil kesimpulan yang hampir sama. Pada tulisan ini pun merupakan hasil penelitian terhadap anak-anak usia 4-6 tahun di Kota bandung tahun 2008, secara acak mengambil sampel sebanyak 60 gambar dari 40 anak-anak. Gambar itu diteli dari mulai proses, sikap anak dan hasil gambar yang diperoleh. Gambari itu dianalisis berdasarkan goresan, bentuk obyek, ukuran obyek dan komposisinya.
hasil penelitian itulah yang dituangkan dalam tulisan ini. Dari hasil penelitian itu membuktikan bahwa ada kesamaan hasil kesimpulan, bila dibandingkan dengan hasil peneliti pendahulu, seperti Oho Graha, Primadi Tabrani, Corado Ricci, Neni Nurbayani, Victor Jower Feld dan para peneliti pendahulu lainnya, yaitu bahwa gambar anak-anak dapat mencerminkan perkembangan anak...

untuk lebih lengkapnya download disini...


Sunday, November 8, 2015

kumpulan Journal

DAFTAR ISI

  1. Pemberian Stimulasi Perkembangan anak Sesuai Usia oleh Orangtua Balita 
  2. Perbandingan antara pengaruh layanan informasi dan konseling kelompok terhadap sikap tentang kesehatan Reproduksi remaja
  3. Aplikasi Balanced Scorecard di Rumah Bersalin 
  4. Pengaruh pemberian Pocari Sweat terhadap kualitas HIS Persalinan
  5. Hubungan antara sikap terhadap penggunaan garam beryodium denan kejadian gondok pada wanita usia subur 
  6. Penurunan Kesadaran menggunakan Zeolit 
  7. Hubungan anatara usia menikah dan paritas dengan kejadian kanker serviks 
  8. Pengaruh larutan sereh wangi dan daun tembelekan terhadap daya tolak gigitan nyamuk Aides Aegypti
untuk lebih lengkapnya download disini

KECEMASAN IBU DALAM IMUNISASI

PENDAHULUAN


Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya salah satunya adalah imunisasi DPT (Diphteria Pertussis Tetanus).  Imunisasi DPT merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit Difteri, Pertusis dan Tetanus (A. Aziz,2008). kalau anak tidak diberikan imunisasi DPT maka tubuhnya tidak memiliki kekebalan yang spesifik terhadap penyakit tersebut (Soedjatmiko, 2007)
terhadap efek samping setelah pelaksanaan imunisasi DPT yang dikenal dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau Adverse Events Following Immuization (AEFI) merupakan suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga berhubungan dengan imunisasi (Depkes, 2000)
peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting.  Karena pengetahuan tentang program imunisasi amat diperlukan dalam pelaksanaan imunisasi (Mizral Tawi, 2008).  Pemahaman persepsi dan pengetahuan ibu tentang imunisasi membantu pembangunan program kesehatan (Manjunath U, 2003)....

untuk lebih lengkap download disini

strategi bertahan hidup anak jalanan

STRATEGI BERTAHAN HIDUP ANAK JALANAN


strategi bertahan hidup sangat penting bagi keluarga miskin.  Hal ini juga berlaku pada anak jalanan, karena fenomena anak jalanan muncul akibaat masalah kemiskinan yang terjadi di negara kita. Manfaat strategi bertahan hidup bagi anak jalanan yaitu agar mereka dapat menjaga eksitensi baik diri maupun keluarga anak jalanan.  Alasan anak trun ke jalanan antara lain yaitu menopang kehidupan ekonomi keluarga, mencari kompensasi dari kurangnya perhatian keluarga, dan sekedar mencari uang tambahan.Adapun keterlibatan orang lain yang menyebabkan anak terpaksa untuk kerja menjadi salah satu alasan makin maraknya fenomena anak jalanan.  Pemaksaan yang dilakukan oleh orangtua atau sindikat penculikan dan perdagangan anak terhadap praktek kerja anak dijalanan membuat anak terpaksa bekerja di jalanan.

Ketika anak beranjak remaja terhadap pola pikir. Agen sosialisasi berubah pada anak yang berusia antara 13 sampai 18 tahun.  Dimana sosialisasi yang dilakukan oleh peer group menjadi sangat bahkan lebih penting.  Terkait dengan kasus anak jalanan, menurut teori kemiskinan yang dijelaskan oleh Parsudi Suparlan (1993) bahwa "sekali kebudayaan kemiskinan tumbuh, ia cenderung melenggangkan dirinya dari generasi ke generasi melalui pengaruhnya terhadap anak-anak".  Hal ini berarti secara tidak langsung anak-anak mereka akan mewarisi pekerjaan yang telah dijalani oleh orangtuanya dan ditambah lagi pada masa kanak-kanak orangtua menjadi role model bagi mereka. Strategi bertahan hidup anak jalanan dalam memperoleh penghasilan diperoleh melalui pilihan serangkaian kegiatan yang ada. Pilihan yang digunakan bisa berupa cara kerja secara mandiri, berdua, atau berkelompok, jenis pekerjaan, jam kerja, media atau alat yang digunakan dalam bekerja, lokasi kerja dan seluruhnya berpengaruh terhadap penghasilan.  Faktor demografis seperti usia dan jenis kelamin berhubungan dengan strategi  bertahan hidup yang dilakukan oleh individu dalam bekerja

journal dukungan keluarga, pengetahuan dan persepsi ibu serta hubungannya dengan strategi koping ibu pada anak dengan gangguan Autism Spectrum Disorder (ASD)

AUTISM SPECTRUM DISORDER (ASD)


ASD adalah gangguan perkembangan terutama dalam perilaku yang secara umum disebabkan oleh kelainan struktut otak atau fungsi otak. ASD ini terlihat sebelum anak berusia 3 tahun dan dapat diketahui dari interaksi sosial dan komunikasi yang terbatas dan berulang-ulang. 
penyandang ASD semakin meningkat di seluruh dunia, pada tahun 2006 diperkirakan pervalensi jumlah penyandang ASD 1:100 kelahiran (Kelana & Elmy 2007).  Di Indonesia hingga saat ini penyandang ASD belum diketahui secara pasti jumlahnya, akan tetapi diperkirakan lebih dari 400.000 orang (Kelana & Elmy 2007)
Haloryd dan Mc Arthur (1976) dalam Tobing (2004) menyatakan bahwa ibu dengan anak ASD memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan denan ibu yang memiliki anak Down Syndrome. Selain itu, orang tua dengan anak ASD memiliki stres yang lebih besar dibandingkan orang tua dengan anak yang menderita kesulitan belajar (Konsentareas 1992 dalam Tobing 2004) dan retardasi mental (Donovan 1988 dalam Tobing 2004).  Stres tersebut dapat berpengaruh pada peran ibu terutama dalam merawat, mengasuh dan mendidik anak. 
Strategi koping yang efektif diharapkan mengurangi stres ibu dalam menghadapu anak ASD sehingga dapat melaksanakan peran mengasuhnya dengan baik.  

untuk lebih lengkap download disini

Faktor Risiko Diare pada Bayi

FAKTOR RISIKO DIARE PADA ANAK

Pnyakit diare menempati urutan kelima dari 10 penyakit utama pada pasien rawat jalan di RS merupakan topik yang sering diteliti secara akademik dibidang kesehatan masyarakat.  Penelitian berupa systematic review terhadap 18 penelitian akademik FKM UI yang dilakukan pada tahun 2000-2005 dengan 3884 (kisaran 65-500) subyek penelitian bertujuan untuk melihat faktor risiko diare pada bayi dan balita di Indonesia.  Data yang dikumpulkan dianalisis secara univariat dan bivariat.

Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan dunia teruatama di Negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare.  WHO memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia pada tahun 2000 dan 2,2 juta diantaranya meninggal sebagian besar anak-anak dibawah umur 5 tahun.  Hal ini sebanding dengan 1 anak meninggal setiap 15 detik atau 20 jumbo jet kecelakaan setiap hari.  Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama.  Hali ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian teruatama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB)

penyakit diare sering menyerang bayi dan balita, bila tidak diatasi lebih lanjut akan menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan kematian.  Data terakhir dari departemen kesehatan menunjukan bahwa diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi dibawah lima tahun (balita) di Indonesia setelah radang paru atau Pneumonia. Banyak faktor risiko yang diduga menyebabkan terjadinya penyakit diare pada bayi dan balita di Indonesia.  Salah satu faktor risiko yang sering diteliti adalah faktor lingkungan yang meliputi sarana air bersih (SAB), sanitasi, jamban, saluran pembuangan air limbah (SPAL), kualitas bakterologis air dan kondisi rumah.  Data terakhir menunjukan bahwa kualitas air minum yang buruk menyebabkan 300 kasus diare per 1000 penduduk.  Sanitasi yang buruk dituding sebagai penyebab banyaknya kontaminasi bakteri E-coli  dalam air bersih yang dikonsumsi masyarakat.  Bakteri E-coli mengindikasikan adanya pencemaran tinja manusia..

lebih lengkap download disini

Tuesday, November 3, 2015

askep DHF

download LP askep DHF

askep hidronefrosis

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PASA PASIEN DENGAN HIDRONEFROSIS


1. Pengertian

Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan perifer ginjal pada satu atau kedua ginjal akibat adanya obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik sehingga tekanan diginjal meningkat (Smeltzer dan Bare, 2002).
Hidronefrosis adalah obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih dapat mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelviks ginjal dan ureter yang dapat mengakibatkan absorbsi hebat pada parenkim ginjal (Sylvia, 1995).
Apabila obstruksi ini terjadi di ureter atau kandung kemih, tekanan balik akan mempengaruhi kedua ginjal tetapi jika obstruksi terjadi disalah satu ureter akibat adanya batu atau kekakuan maka hanya satu ginjal yang rusak.

2. Etiologi

1. Jaringan parut ginjal/ureter.
2. Batu
3. Neoplasma/tomur
4. Hipertrofi prostat
5. Kelainan konginetal pada leher kandung kemih dan uretra
6. Penyempitan uretra
7. Pembesaran uterus pada kehamilan (Smeltzer dan Bare, 2002).

3. Patofiologi
Apapun penyebab dari hidronefrosis, disebabkan adanya obstruksi baik parsial ataupun intermitten mengakibatkan terjadinya akumulasi urin di piala ginjal. Sehingga menyebabkan disertasi piala dan kolik ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal terjadi ketika salah satu ginjal sedang mengalami kerusakan bertahap maka ginjal yang lain akan  membesar secara bertahap (hipertrofi kompensatori), akibatnya fungsi renal terganggu (Smeltzer dan Bare, 2002).

4. Manifestasi Klinis
Pasien mungkin asimtomatik jika awitan terjadi secara bertahap. Obstruksi akut dapat menimbulkan rasa sakit dipanggul dan pinggang. Jika terjadi infeksi maja disuria, menggigil, demam dan nyeri tekan serta piuria akan terjadi. Hematuri dan piuria mungkin juga ada. Jika kedua ginjal kena maka tanda dan gejala gagal ginjal kronik akan muncul, seperti:
1. Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium).
2. Gagal jantung kongestif.
3. Perikarditis (akibat iritasi oleh toksik uremi).
4. Pruritis (gatal kulit).
5. Butiran uremik (kristal urea pada kulit).
6. Anoreksia, mual, muntah, cegukan.
7. Penurunan konsentrasi, kedutan otot dan kejang.
8. Amenore, atrofi testikuler.
                       (Smeltzer dan Bare, 2002)

5. Penatalaksanaan
Tujuannya adalah untuk mengaktivasi dan memperbaiki penyebab dari hidronefrosis (obstruksi, infeksi) dan untuk mempertahankan dan melindungi fungsi ginjal.
Untuk mengurangi obstruksi urin akan dialihkan melalui tindakan nefrostomi atau tipe disertasi lainnya. Infeksi ditangani dengan agen anti mikrobial karena sisa urin dalam kaliks akan menyebabkan infeksi dan pielonefritis. Pasien disiapkan untuk pembedahan mengangkat lesi obstrukstif (batu, tumor, obstruksi ureter). Jika salah satu fungsi ginjal rusak parah dan hancur maka nefrektomi (pengangkatan ginjal) dapat dilakukan (Smeltzer dan Bare, 2002).
6. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
1). Gangguan keseimbangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan cairan.
Tujuan: Volume cairan seimbang
Kriteria hasil:
- RR dan TTV normal/stabil
- Turgor baik, mukosa lembab
- Intake dan output seimbang
Intervensi:
1. Timbang BB tiap tiga hari.
2. Observasi TTV
3. Beri posisi trendelenberg
4. Pantau intake dan output
5. kolaborasi pemberian diuresis
6. Cek laboratorium darah lengkap/rutin
2). Resti infeksi berhubungan dengan akses haemodialise
Tujuan: Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil:
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
- Tidak ada sepsis dan pus
Tindakan:
1. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
2. Tutup luka dengan teknik aseptik
3. Monitor jika ada peradangan
4. Monitor TTV
5. Kolaborasi pemberian antibiotik

3). Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan obstruksi akut.
Tujuan: Nyeri berkurang sampai hilang
Kriteria hasil:
- Pasien tampak rileks
- Pasien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
Intervensi:
1. Kaji tingkat nyeri
2. Beri penjelasan penyebab nyeri
3. Ajarkan relaksasi dan distraksi
4. Kolaborasi pemberian analgetik
4). Intoleransi aktivitas berhubungan dengan anemia
Tujuan: Kebutuhan aktivitas terpenuhi
Kriteria hasil:
- Meningkatkan kemampuan mobilitas
- Melaporkan penurunan gejala-gejala intoleransi aktivitas
Intervensi:
1. Kaji respon individu terhadap aktivitas, nyeri, dispnea, vertigo
2. Meningkatkan aktivitas klien secara bertahap
3. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi
5). Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah
Tujuan: Nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil:
- Masukan per oral meningkat
- Berat badan dalam rentang normal
Intervensi
1. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat.
2. Berikan porsi makan kecil tapi sering
3. Ciptakan suasanya yang menyenangkan
4. Dukung klien untuk makan bersama anggota keluarga
7. Daftar Pustaka
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana asuhan keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia. 1992. Patofisiologi edisi keempat. Jakatya: EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. Buku aajar keperawatan medikal bedah edisi 8. Jakarta: EGC.



Wednesday, October 28, 2015

benigna prostat hipertropi (BPH)

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MASALAH BENIGNA  PROSTAT HIPERTROPI (BPH)


A.    DEFINISI BPH
adalah pembesaran atau hypertropi prostat. Kelenjar prostat membesar, memanjang ke arah depan ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar urine, dapat menyebabkan hydronefrosis dan hydroureter. Istilah Benigna Prostat Hipertropi sebenarnya tidaklah tepat karena kelenjar prostat tidaklah membesar atau hipertropi prostat, tetapi kelenjar-kelenjar periuretralah yang mengalami hiperplasia(sel-selnya bertambah banyak. Kelenjar-kelenjar prostat sendiri akan terdesak menjadi gepeng dan disebut kapsul surgical. Maka dalam literatur di benigna hiperplasia of prostat gland atau adenoma prostat, tetapi hipertropi prostat sudah umum dipakai.

B.     ETIOLOGI
Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti. Prostat merupakan alat tubuh yang bergantung kepada endokrin dan dapat pula dianggap undangan(counter part). Oleh karena itu yang dianggap etiologi adalah karena tidak adanya keseimbangan endokrin. Namun menurut Syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 etiologi dari BPH adalah:
·      Adanya hiperplasia periuretral yang disebabkan karena perubahan keseimbangan testosteron dan estrogen.
·      Ketidakseimbangan endokrin.
·      Faktor umur / usia lanjut. o Unknown / tidak diketahui secara pasti.

C.     PATOFISIOLOGI
Menurut syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 adalah Umumnya gangguan ini terjadi setelah usia pertengahan akibat perubahan hormonal. Bagian paling dalam prostat membesar dengan terbentuknya adenoma yang tersebar. Pembesaran adenoma progresif menekan atau mendesak jaringan prostat yang normal ke kapsula sejati yang menghasilkan kapsula bedah. Kapsula bedah ini menahan perluasannya dan adenoma cenderung tumbuh ke dalam menuju lumennya, yang membatasi pengeluaran urin. Akhirnya diperlukan peningkatan penekanan untuk mengosongkan kandung kemih. Serat-serat muskulus destrusor berespon hipertropi, yang menghasilkan trabekulasi di dalam kandung kemih. Pada beberapa kasus jika obsruksi keluar terlalu hebat, terjadi dekompensasi kandung kemih menjadi struktur yang flasid, berdilatasi dan sanggup berkontraksi secara efektif. Karena terdapat sisi urin, maka terdapat peningkatan infeksi dan batu kandung kemih. Peningkatan tekanan balik dapat menyebabkan hidronefrosis. Retensi progresif bagi air, natrium, dan urea dapat menimbulkan edema hebat. Edema ini berespon cepat dengan drainage kateter. Diuresis paska operasi dapat terjadi pada pasien dengan edema hebat dan hidronefrosis setelah dihilangkan obstruksinya. Pada awalnya air, elekrolit, urin dan beban solutlainya meningkatkan diuresis ini, akhirnya kehilangan cairan yang progresif bisa merusakkan kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan serta menahan air dan natrium akibat kehilangan cairan dan elekrolit yang berlebihan bisa menyebabkan hipovelemia. Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan pada traktus urinarius, terjadi perlahan-lahan. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan kontraksi lebih kuat. Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai (trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas. Obstruksi uretra Penumpukan urin dlm VU Pembedahan/prostatektomi Kompensasi otot destrusor Spasme otot spincter Merangsang nociseptor Hipotalamus Dekompensasi otot destrusor Potensi urin Tek intravesikal Refluk urin ke ginjal Tek ureter & ginjal meningkat Gagal ginjal Retensi urin Port de entrée mikroorganisme kateterisasi Luka insisi Resiko disfungsi seksual Nyeri Resti infeksi Resiko kekurangan vol cairan Resiko perdarahan: resiko syok hipovolemik Hilangnya fungsi tbh Perub pola eliminasi Kurang informasi ttg penyakitnya Kurang pengetahuan Hyperplasia periuretral Usia lanjut Ketidakseimbangan endokrin BPH

D.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Nyeri akut berhubungan dengan agen injury biologic
2.      Perubahan pola eliminasi : retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder
3.      Disfungsi seksual berhubungan dengan hilangnya fungsi tubuh
4.      Rsiko Infeksi
5.      kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit, perawatannya.

E.     RENCANA KEPERAWATAN/ INTERVENSI
1.      Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologic
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat. Kriteria hasil:
ü  Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang
ü  Pasien dapat beristirahat dengan tenang
Intervensi:
a.       Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.
b.      Ajarkan tekhnik nafas dalam untuk mengurangi nyeri
c.       Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)
d.      Beri kompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah
e.       Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)
f.       Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi
g.      Lakukan perawatan aseptik terapeutik
h.      Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat
2.      Perubahan pola eliminasi urine: retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder.
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 5-7 hari pasien tidak mengalami retensi urin Kriteria:
ü  Pasien dapat buang air kecil teratur bebas dari distensi kandung kemih.
Intervensi:
a.       Lakukan irigasi kateter secara berkala atau terus- menerus dengan teknik steril
b.      Atur posisi selang kateter dan urin bag sesuai gravitasi dalam keadaan tertutup
c.       Observasi adanya tanda-tanda shock/hemoragi (hematuria, dingin, kulit lembab, takikardi, dispnea)
d.      Mempertahankan kesterilan sistem drainage cuci tangan sebelum dan sesudah menggunakan alat dan observasi aliran urin serta adanya bekuan darah atau jaringan
e.       Monitor urine setiap jam (hari pertama operasi) dan setiap 2 jam (mulai hari kedua post operasi)
f.       Ukur intake output cairan g. Beri tindakan asupan/pemasukan oral 2000-3000 ml/hari, jika tidak ada kontra indikasi
g.      Berikan latihan perineal (kegel training) 15-20x/jam selama 2-3 minggu, anjurkan dan motivasi pasien untuk melakukannya.

3.      Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan sumbatan saluran ejakulasi, hilangnya fungsi tubuh
Tujuan: Setelah dilakukan perawatn selama 1-3 hari pasien mampu mempertahankan fungsi seksualnya Kriteria hasil:
ü  Pasien menyadari keadaannya dan akan mulai lagi intaraksi seksual dan aktivitas secara optimal.
Intervensi:
a.       Motivasi pasien untuk mengungkapkan perasaannya yang berhubungan dengan perubahannya
b.      Jawablah setiap pertanyaan pasien dengan tepat
c.       Beri kesempatan pada pasien untuk mendiskusikan perasaannya tentang efek prostatektomi dalam fungsi seksual
d.      Libatkan kelurga/istri dalam perawatan pmecahan masalah fungsi seksual
e.       Beri penjelasan penting tentang: Impoten terjadi pada prosedur radikal, Adanya kemungkinan fungsi seksual kembali normal, Adanya kemunduran ejakulasi
f.       Anjurkan pasien untuk menghindari hubungan seksual selama 1 bulan (3-4 minggu) setelah operasi.

4.      Risiko infeksi
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 1-3 hari pasien terbebas dari infeksi Kriteria hasil:
ü  Tanda-tanda vital dalam batas normal
ü  Tidak ada bengkak, aritema, nyeri
ü  Luka insisi semakin sembuh dengan baik
Intervensi:
a.       Lakukan irigasi kandung kemih dengan larutan steril.
b.      Observasi insisi (adanya indurasi drainage dan kateter), (adanya sumbatan, kebocoran)
c.       Lakukan perawatan luka insisi secara aseptik, jaga kulit sekitar kateter dan drainage
d.      Monitor balutan luka, gunakan pengikat bentuk T perineal untuk menjamin dressing
e.       Monitor tanda-tanda sepsis (nadi lemah, hipotensi, nafas meningkat, dingin)

5.    Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit, perawatannya
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 1-2 hari Kriteria : Secara verbal pasien mengerti dan mampu mengungkapkan dan mendemonstrasikan perawatan Intervensi:
a.       Motivasi pasien/ keluarga untuk mengungkapkan pernyataannya tentang penyakit, perawat

b.      Berikan pendidikan pada pasien/keluarga tentang: Perawatan luka, pemberian nutrisi, cairan irigasi, kateter; Perawatan di rumah; Adanya tanda-tanda hemoragi, infeksi