Wednesday, October 28, 2015

benigna prostat hipertropi (BPH)

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MASALAH BENIGNA  PROSTAT HIPERTROPI (BPH)


A.    DEFINISI BPH
adalah pembesaran atau hypertropi prostat. Kelenjar prostat membesar, memanjang ke arah depan ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar urine, dapat menyebabkan hydronefrosis dan hydroureter. Istilah Benigna Prostat Hipertropi sebenarnya tidaklah tepat karena kelenjar prostat tidaklah membesar atau hipertropi prostat, tetapi kelenjar-kelenjar periuretralah yang mengalami hiperplasia(sel-selnya bertambah banyak. Kelenjar-kelenjar prostat sendiri akan terdesak menjadi gepeng dan disebut kapsul surgical. Maka dalam literatur di benigna hiperplasia of prostat gland atau adenoma prostat, tetapi hipertropi prostat sudah umum dipakai.

B.     ETIOLOGI
Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti. Prostat merupakan alat tubuh yang bergantung kepada endokrin dan dapat pula dianggap undangan(counter part). Oleh karena itu yang dianggap etiologi adalah karena tidak adanya keseimbangan endokrin. Namun menurut Syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 etiologi dari BPH adalah:
·      Adanya hiperplasia periuretral yang disebabkan karena perubahan keseimbangan testosteron dan estrogen.
·      Ketidakseimbangan endokrin.
·      Faktor umur / usia lanjut. o Unknown / tidak diketahui secara pasti.

C.     PATOFISIOLOGI
Menurut syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 adalah Umumnya gangguan ini terjadi setelah usia pertengahan akibat perubahan hormonal. Bagian paling dalam prostat membesar dengan terbentuknya adenoma yang tersebar. Pembesaran adenoma progresif menekan atau mendesak jaringan prostat yang normal ke kapsula sejati yang menghasilkan kapsula bedah. Kapsula bedah ini menahan perluasannya dan adenoma cenderung tumbuh ke dalam menuju lumennya, yang membatasi pengeluaran urin. Akhirnya diperlukan peningkatan penekanan untuk mengosongkan kandung kemih. Serat-serat muskulus destrusor berespon hipertropi, yang menghasilkan trabekulasi di dalam kandung kemih. Pada beberapa kasus jika obsruksi keluar terlalu hebat, terjadi dekompensasi kandung kemih menjadi struktur yang flasid, berdilatasi dan sanggup berkontraksi secara efektif. Karena terdapat sisi urin, maka terdapat peningkatan infeksi dan batu kandung kemih. Peningkatan tekanan balik dapat menyebabkan hidronefrosis. Retensi progresif bagi air, natrium, dan urea dapat menimbulkan edema hebat. Edema ini berespon cepat dengan drainage kateter. Diuresis paska operasi dapat terjadi pada pasien dengan edema hebat dan hidronefrosis setelah dihilangkan obstruksinya. Pada awalnya air, elekrolit, urin dan beban solutlainya meningkatkan diuresis ini, akhirnya kehilangan cairan yang progresif bisa merusakkan kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan serta menahan air dan natrium akibat kehilangan cairan dan elekrolit yang berlebihan bisa menyebabkan hipovelemia. Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan pada traktus urinarius, terjadi perlahan-lahan. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan kontraksi lebih kuat. Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai (trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas. Obstruksi uretra Penumpukan urin dlm VU Pembedahan/prostatektomi Kompensasi otot destrusor Spasme otot spincter Merangsang nociseptor Hipotalamus Dekompensasi otot destrusor Potensi urin Tek intravesikal Refluk urin ke ginjal Tek ureter & ginjal meningkat Gagal ginjal Retensi urin Port de entrée mikroorganisme kateterisasi Luka insisi Resiko disfungsi seksual Nyeri Resti infeksi Resiko kekurangan vol cairan Resiko perdarahan: resiko syok hipovolemik Hilangnya fungsi tbh Perub pola eliminasi Kurang informasi ttg penyakitnya Kurang pengetahuan Hyperplasia periuretral Usia lanjut Ketidakseimbangan endokrin BPH

D.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Nyeri akut berhubungan dengan agen injury biologic
2.      Perubahan pola eliminasi : retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder
3.      Disfungsi seksual berhubungan dengan hilangnya fungsi tubuh
4.      Rsiko Infeksi
5.      kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit, perawatannya.

E.     RENCANA KEPERAWATAN/ INTERVENSI
1.      Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologic
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat. Kriteria hasil:
ü  Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang
ü  Pasien dapat beristirahat dengan tenang
Intervensi:
a.       Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.
b.      Ajarkan tekhnik nafas dalam untuk mengurangi nyeri
c.       Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)
d.      Beri kompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah
e.       Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)
f.       Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi
g.      Lakukan perawatan aseptik terapeutik
h.      Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat
2.      Perubahan pola eliminasi urine: retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder.
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 5-7 hari pasien tidak mengalami retensi urin Kriteria:
ü  Pasien dapat buang air kecil teratur bebas dari distensi kandung kemih.
Intervensi:
a.       Lakukan irigasi kateter secara berkala atau terus- menerus dengan teknik steril
b.      Atur posisi selang kateter dan urin bag sesuai gravitasi dalam keadaan tertutup
c.       Observasi adanya tanda-tanda shock/hemoragi (hematuria, dingin, kulit lembab, takikardi, dispnea)
d.      Mempertahankan kesterilan sistem drainage cuci tangan sebelum dan sesudah menggunakan alat dan observasi aliran urin serta adanya bekuan darah atau jaringan
e.       Monitor urine setiap jam (hari pertama operasi) dan setiap 2 jam (mulai hari kedua post operasi)
f.       Ukur intake output cairan g. Beri tindakan asupan/pemasukan oral 2000-3000 ml/hari, jika tidak ada kontra indikasi
g.      Berikan latihan perineal (kegel training) 15-20x/jam selama 2-3 minggu, anjurkan dan motivasi pasien untuk melakukannya.

3.      Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan sumbatan saluran ejakulasi, hilangnya fungsi tubuh
Tujuan: Setelah dilakukan perawatn selama 1-3 hari pasien mampu mempertahankan fungsi seksualnya Kriteria hasil:
ü  Pasien menyadari keadaannya dan akan mulai lagi intaraksi seksual dan aktivitas secara optimal.
Intervensi:
a.       Motivasi pasien untuk mengungkapkan perasaannya yang berhubungan dengan perubahannya
b.      Jawablah setiap pertanyaan pasien dengan tepat
c.       Beri kesempatan pada pasien untuk mendiskusikan perasaannya tentang efek prostatektomi dalam fungsi seksual
d.      Libatkan kelurga/istri dalam perawatan pmecahan masalah fungsi seksual
e.       Beri penjelasan penting tentang: Impoten terjadi pada prosedur radikal, Adanya kemungkinan fungsi seksual kembali normal, Adanya kemunduran ejakulasi
f.       Anjurkan pasien untuk menghindari hubungan seksual selama 1 bulan (3-4 minggu) setelah operasi.

4.      Risiko infeksi
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 1-3 hari pasien terbebas dari infeksi Kriteria hasil:
ü  Tanda-tanda vital dalam batas normal
ü  Tidak ada bengkak, aritema, nyeri
ü  Luka insisi semakin sembuh dengan baik
Intervensi:
a.       Lakukan irigasi kandung kemih dengan larutan steril.
b.      Observasi insisi (adanya indurasi drainage dan kateter), (adanya sumbatan, kebocoran)
c.       Lakukan perawatan luka insisi secara aseptik, jaga kulit sekitar kateter dan drainage
d.      Monitor balutan luka, gunakan pengikat bentuk T perineal untuk menjamin dressing
e.       Monitor tanda-tanda sepsis (nadi lemah, hipotensi, nafas meningkat, dingin)

5.    Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit, perawatannya
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 1-2 hari Kriteria : Secara verbal pasien mengerti dan mampu mengungkapkan dan mendemonstrasikan perawatan Intervensi:
a.       Motivasi pasien/ keluarga untuk mengungkapkan pernyataannya tentang penyakit, perawat

b.      Berikan pendidikan pada pasien/keluarga tentang: Perawatan luka, pemberian nutrisi, cairan irigasi, kateter; Perawatan di rumah; Adanya tanda-tanda hemoragi, infeksi 

No comments :

Post a Comment

muat komentar anda disini untuk membantu mengembangkan blog ini...